Supremasi Algoritma dan Masa Depan Pers: Alarm dari Kaleidoskop Media Massa 2025

REDAKTUR UTAMA

- Redaksi

Rabu, 24 Desember 2025 - 09:37 WIB

50260 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Kebebasan pers, keberlanjutan bisnis media, serta ancaman supremasi algoritma platform digital menjadi sorotan utama dalam diskusi “Kaleidoskop Media Massa 2025” yang digelar di Aula Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Selasa, 23 Desember 2025. Diskusi ini mempertemukan para pakar, praktisi media, dan budayawan untuk membaca ulang arah masa depan pers di tengah guncangan teknologi digital yang kian masif.

Dalam forum tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, menyatakan bahwa media massa Indonesia kini berada di titik krusial. Menurut dia, pers menghadapi tekanan berlapis yang tidak hanya datang dari perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat, tetapi juga dari dominasi platform digital global.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Munir menilai diperlukan peran negara untuk menyelamatkan ekosistem pers nasional agar tetap hidup dan berfungsi sebagai pilar demokrasi. Namun, intervensi itu, kata dia, harus dirancang dengan cermat agar tidak menggerus kemerdekaan pers.

Persaingan dengan media sosial disebut menjadi tantangan paling nyata. Platform digital dengan kekuatan modal besar, kecepatan distribusi, serta dukungan algoritma yang agresif dinilai telah menggerus posisi media arus utama.

Kondisi ini diperparah oleh lemahnya kesiapan manajemen media dalam mengantisipasi transformasi digital, baik dari sisi teknologi, model bisnis, maupun sumber daya manusia.

Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, mengungkapkan bahwa tekanan finansial membuat banyak media tidak lagi memiliki kemampuan seperti sebelumnya.

Media, kata dia, kini kesulitan menempatkan koresponden di berbagai daerah, sehingga liputan langsung dan mendalam semakin terbatas. Di sisi lain, media sosial mampu menghadirkan informasi secara instan, meski sering kali tanpa proses verifikasi yang memadai.

Totok bahkan mengingatkan, jika media sosial suatu saat mampu memenuhi standar verifikasi, konfirmasi, dan kode etik jurnalistik, maka eksistensi media arus utama akan menghadapi ancaman yang jauh lebih serius.

Anggota Dewan Pakar PWI Pusat, Wahyu Muryadi, memaparkan data tentang sejumlah media yang terpaksa gulung tikar karena tidak mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan teknologi.

Ia menilai intervensi negara bisa menjadi salah satu opsi penyelamatan, tetapi mengandung risiko besar terhadap independensi redaksi. Dilema ini, menurut Wahyu, harus dibahas secara terbuka agar tidak melahirkan ketergantungan baru yang justru melemahkan fungsi kontrol pers.

Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, Agus Sudibyo, menyoroti dominasi algoritma platform digital yang dinilai telah mengubah lanskap distribusi informasi.

Algoritma, kata dia, menentukan apa yang dilihat publik, bukan lagi sepenuhnya ditentukan oleh nilai kepentingan publik. Upaya untuk menuntaskan persoalan hak penerbit atau publisher’s right, yang diharapkan bisa memberikan keadilan ekonomi bagi media, hingga kini masih menemui jalan buntu.

Pandangan yang lebih optimistis disampaikan Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Dhimam Abror. Ia mengingatkan agar insan pers tidak terjebak pada pesimisme berlebihan terhadap teknologi. Dalam sejarah, kata dia, berbagai teknologi baru selalu diprediksi akan mematikan media sebelumnya, namun kenyataannya media tetap bertahan dengan beradaptasi.

Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence, menurut Abror, tidak otomatis menjadi predator yang menghancurkan pers, melainkan tantangan yang harus direspons dengan strategi yang tepat.

Pendapat serupa disampaikan Effendi Gazali, anggota Dewan Pakar PWI Pusat. Ia menilai perkembangan kecerdasan buatan akan memunculkan dialektika baru dalam industri media.

Media arus utama, kata dia, mau tidak mau akan melakukan penyesuaian terhadap kemajuan teknologi. Meski saat ini terlihat seolah media baru lebih unggul, pada akhirnya akan tercipta keseimbangan baru yang membentuk wajah industri media di masa depan.

Budayawan Sujiwo Tedjo turut memberi perspektif kultural terhadap isu algoritma. Ia menyebut algoritma sejatinya bukan konsep baru. Sejak lama, kata dia, manusia sudah hidup dengan pola sebab-akibat yang serupa dengan prinsip algoritma.

Ia mempertanyakan ketakutan berlebihan terhadap algoritma digital, seraya mengingatkan bahwa tantangan utama justru terletak pada bagaimana manusia mengelolanya, bukan pada teknologinya semata.

Menutup diskusi, Akbar Faisal menegaskan bahwa profesi kewartawanan tengah menghadapi ujian besar akibat disrupsi teknologi. Ia menilai organisasi kewartawanan memiliki peran penting sebagai fasilitator peningkatan kapasitas dan profesionalitas wartawan.

Dengan memperkuat kompetensi, etika, dan daya adaptasi, ia optimistis pers masih memiliki ruang untuk bertahan dan tetap relevan di tengah perubahan zaman yang cepat dan tidak selalu ramah. []

Berita Terkait

Ketua Umum JARNAS Anti TPPO Mendorong Adanya Revisi Sistem Regulasi UU Nomor 21 Tahun 2007 Tentang TPPO
BNN Sita 200 Kg Ganja, Tiga Tersangka Jaringan Aceh–Medan Terancam Hukuman Berat
Diklat Bela Negara Wartawan, Upaya Meneguhkan Peran Pers dalam Kehidupan Berbangsa
Jangan Dipelintir: Video Golf Kepala BGN Bertujuan Sosial*
Kecelakaan Mobil Operasional MBG di Depok Menjadi Ujian dan Tantangan di Tengah Ikhtiar Pemenuhan Gizi Anak Bangsa
Fokus BGN untuk MBG Sejalan Dengan Asta Cita Presiden Yang Menempatkan Sumber Daya Manusia Anak Anak Kita Yang Bersekolah Tidak Kelaparan Dan Gizinya Seimbang
Program PWI ‘Satu Perahu’ dengan Bappenas dalam Meningkatkan Kompetensi SDM Wartawan
Kangkangi UU No 6 Tahun 2014, Desak KASN Pecat Camat dan Sekcamat Tugala Oyo

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 16:17 WIB

Polres Aceh Tenggara dan STIK 83/WPS Hadirkan Keceriaan, Trauma Healing Anak Panti Asuhan Tunas Murni

Rabu, 14 Januari 2026 - 23:32 WIB

Pajri Gegoh: Masyarakat Jangan Terkecoh, Ada Agenda Tersembunyi di Balik Aksi LSM

Selasa, 16 Desember 2025 - 00:19 WIB

Sungai Rumah Bundar Ditutup, Jalan Nasional Aceh Tenggara Tinggal Menunggu Dibuka

Selasa, 8 Juli 2025 - 13:46 WIB

Skandal Dana Desa Guncang Lawe Tawakh: Pj. Kades Jumatidin Dilaporkan ke Bupati!

Selasa, 1 Juli 2025 - 23:39 WIB

Camat Bukit Tusam Tutup MTQ ke-XL: Jadikan Al-Qur’an Sahabat Sehari-hari

Senin, 2 Juni 2025 - 12:31 WIB

Kampanye Keselamatan Berlalu Lintas: 5.000 Peserta Padati Lapangan Pemuda Aceh Tenggara

Minggu, 25 Mei 2025 - 15:58 WIB

Bupati Salurkan Bantuan dan Sampaikan Duka atas Korban Kebakaran di Lawe Bekung

Minggu, 25 Mei 2025 - 14:51 WIB

Ketua Umum Formades Sindir Kades Panik: Pengawasan Dana Desa Bukan Kejahatan

Berita Terbaru